Senin, 23 Januari 2012

arahkan hidup...renungan sepekan


ARAH KAN HIDUPMU ……

IBR 12:2  Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.

Tuhan adalah Roh yang kudus , setiap manusia bila ingin menghadap kepada Tuhan haruslah ia menguduskan dirinya terlebih dahulu, hindari perbuatan yang dapat mencemari kita .
Televisi , Internet, Radio, Berita adalah bagian dari dunia , bila kita tidak menggunakannya dengan bijaksana dan hikmat dari Tuhan maka kita akan tercemari dengan berita yang menyesatkan.

Lihatlah burung burung yang terbang di udara , mereka tidak akan terbang menuju kedaerah gurun(kematian), marilah kita manusia yang diciptakan Allah secara pribadi menghargai pencipta kita dan menjaga apa yang ada dalam kita.

Tuhan memberkati
Hukum tabur tuai
Dalam jaman moderen sekarang ini , Tuhan bekerja tidak berbeda dengan pada saat Perjanjian Lama ataupun Perjanjian Baru.
Dalam segala perkara Tuhan mengajarkan manusia untuk menabur kemudian mereka akan menuai hasilnya.

INGAT DALAM KAMUS TUHAN dalam penciptaan Adam dan Hawa , bagaimana Allah memerintahkan Adam untuk memelihara Taman Eden dan semua sudah di sediakan oleh Allah untuk Adam pelihara.
TETAPI bila tidak dipelihara maka akan rusaklah apa yang sudah Allah berikan.

HAL diatas sama dengan sekarang ini manusia mengapa selalu merasa susah. hal ini biasanya terjadi karena manusia tidak mau menabur dalam arti kata menabur untuk Allah, maka Allah akan bekerja dalam perkara yang kita hadapi untuk kemenangan kita.
APA YANG KITA TABUR MAKA KITA AKAN TUAI.

TOKOH DALAM ALKITAB YANG BERHASIL
·         Yesus menabur teladan bagi pengikutnya dalam hal iman
·         Janda Sarfat menabur apa yang dia punya maka dia di berkati
·         Yusuf menabur kasih dan pengampuanan  maka keluarga selamat dan    diberkati.







MEMBUAT KITA INGIN KEJENUHAN LARI DARI KETAATAN
Pada abad kesebelas, Raja Henry III dari Bavaria mulai jenuh dengan kehidupan di istana dan tekanan-tekanan sebagai seorang raja. Ia akhirnya melamar kepada Pryor Richard di sebuah biara lokal dan meminta agar dirinya diterima sebagai anggota biara tersebut. Raja Henry ingin menghabiskan sisa hidupnya dengan menjadi seorang biarawan.
“Ya, Raja,” kata Pryor Richard, “Apakah Anda memahami bahwa Anda harus berjanji untuk taat di sini? Itu akan sulit bagi Anda karena Anda adalah seorang raja.”
“Saya paham,” jawab Raja Henry. “Sisa hidup saya, saya akan taat kepada Anda, sebagaimana Kristus memimpin Anda.”
“Kalau demikian saya akan memberitahukan kepada Anda apa yang harus Anda lakukan,” kata Pryor Richard. “Kembalilah ke tahta Anda dan layanilah dengan setia dimana Allah telah menempatkan Anda.”
Ketika akhirnya Raja Henry III menutup usia, suatu pernyataan ditulis: “Raja telah belajar untuk berkuasa melalui ketaatan.”
Seberapa sering kita seperti Raja Henry III ini ketika menghadapi kejenuhan dan tekanan hidup, baik di pelayanan ataupun di tempat kerja? Kita ingin lari meninggalkan tekanan itu, atau mencari suasana baru yang bisa menyegarkan kita. Kita hanya mencari apa yang menyenangkan hati kita, namun kita jarang bertanya apakah yang Tuhan mau. Pada hal, kemungkinan besar Tuhan ingin kita tetap menjalankan tugas kita sebaik mungkin dimana Ia telah menempatkan kita.
Dari kisah di atas, mari kita belajar untuk menjalankan tanggung jawab kita dengan penuh ketaatan. Ada waktunya ketika kejenuhan itu akhirnya berlalu, dan kita melihat bagaimana indahnya rencana Tuhan di genapi dengan apa yang kita kerjakan.












INSPIRASI
Dibutuhkan kekuatan untuk meyakini sesuatu,                             Dibutuhkan keberanian untuk memiliki keraguan.
Dibutuhkan kekuatan untuk menyesuaikan diri,
Dibutuhkan keberanian untuk tampil beda.

Dibutuhkan kekuatan untuk merasakan kepedihan seorang teman,
Dibutuhkan keberanian untuk merasakan pedihan Anda sendiri.

Dibutuhkan kekuatan untuk menyembunyikan kepedihan Anda sendiri,
Dibutuhkan keberanian untuk menunjukkannya pada orang lain.

Dibutuhkan kekuatan untuk waspada,
Dibutuhkan keberanian untuk menurunkan kewaspadaan Anda.

Dibutuhkan kekuatan untuk menaklukan,
Dibutuhkan keberanian untuk menyerah.

Dibutuhkan kekuatan untuk bersabar menerima penghinaan,
Dibutuhkan keberanian untuk menghentikan mereka.

Dibutuhkan kekuatan untuk berdiri sendiri,
Dibutuhkan keberanian untuk bersandar pada seorang teman.

Dibutuhkan kekuatan untuk mencintai,
Dibutuhkan keberanian untuk dicintai.

Dibutuhkan kekuatan untuk bertahan hidup,
Dibutuhkan keberanian untuk menjalani hidup.

Anda membutuhkan baik kekuatan maupun keberanian untuk menjalani kehidupan ini, namun Anda butuh kebijaksanaan untuk menentukan kapan harus menggunakan keberanian dan kapan harus menggunakan kekuatan. Jika tidak, keduanya bisa berdampak negatif bagi kehidupan Anda.
Amsal 8:12-14
Aku, hikmat, tinggal bersama-sama dengan kecerdasan, dan aku mendapat pengetahuan dan kebijaksanaan. Takut akan TUHAN ialah membenci kejahatan; aku benci kepada kesombongan, kecongkakan, tingkah laku yang jahat, dan mulut penuh tipu muslihat. Padaku ada nasihat dan pertimbangan, akulah pengertian, padakulah kekuatan.
BARANG YANG PECAH
Maz 31:10-25, Aku … telah menjadi seperti barang yang pecah , ayat 13
Tidak banyak kehidupan utuh di dunia ini yang berguna bagi Allah. Hanya beberapa orang yang dapat melaksanakan harapan dan rencana mereka tanpa mengalami gangguan dan kekecewaan sepanjang hidup mereka.
Namun, kekecewaan manusia kerap kali merupakan rancangan Allah. Dan hal-hal yang kita yakini sebagai tragedi barangkali merupakan suatu kesempatan yang telah dipilih Allah untuk menunjukkan kasih dan anugerah-Nya. Hanya dengan mengikuti alur kehidupan orang-orang yang hancur ini, maka kita akan dapat melihat bahwa mereka akhirnya menjadi orang kristiani yang lebih baik dan efektif daripada jika mereka melaksanakan semua rencana dan maksud mereka sendiri.

Apakah Anda saat ini sedang mengalami kehancuran? Apakah sesuatu yang paling Anda kasihi telah direnggut dari kehidupan Anda? Ingatlah bahwa jika Anda mampu melihat maksud dari semuanya itu melalui sudut pandang Allah, maka Anda akan memuji Tuhan.
Hal-hal terbaik yang terjadi pada diri kita bukanlah hal-hal yang berlangsung dengan cara kita, namun bila kita mengizinkan Allah bekerja dengan cara-Nya. Walaupun ujian, pencobaan, serta dukacita kerap kali tampak keras dan kejam, tetapi itulah cara Allah menunjukkan kasih-Nya dan pada akhirnya akan menjadi yang terbaik bagi kita.
Ingatlah, kita kini memegang janji dari Tuhan: “Ia tidak menahan kebaikan dari orang yang hidup tidak bercela” Maz 84:12

SAYA SERING MELIHAT HIDUP SESEORANG BEGITU HANCUR, KEMUDIAAN DIANGKAT TUHAN.



l
YESUS KAU SAHABAT-KU
Mat 19:13-15 . orang-orang di seluruh dunia suka merayakan peringatan tahun kelahiran pendongeng besar Hans Christian Andersen. Pelajaran dan semangat yang terkandung di dalam kisah-kisah seperti Anak Itik yang Buruk Rupa, Putri Duyung, dan Pakaian Baru Sang Kaisar masih dianggap sebagai sebuah hadiah besar bagi anak-anak di mana saja.
Namun, saya diingatkan bahwa Yesus Kristus adalah sahabat terbesar anak-anak yang pernah dikenal dunia. Tak seorang pun pernah lebih banyak melakukan sesuatu bagi anak-anak itu daripada Yesus.
Saat murid-murid Yesus memarahi orang yang membawa anak-anak kecil kepada-Nya, Tuhan berkata, “Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Surga”
Yesus menghargai anak-anak sebagai pribadi-pribadi yang bernilai. Setelah dielu-elukan di Yerusalem, Tuhan menerima pujian anak-anak dan mengingatkan orang-orang yang mengkritik mereka bahwa Allah telah menyediakan puji-pujian bahkan “dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu” Mat 21:16; Maz 8:3.

Persahabatan dengan Sang Juruselamat merupakan hak istimewa bagi semua orang yang percaya kepada-Nya, yang memiliki iman sederhana seperti seorang anak. Tangan-Nya yang penuh kasih dan hati-Nya yang lembut siap memeluk setiap anak yang menerima-Nya. Dia bersedia menerima semua orang yang membuka hati mereka kepada-Nya dengan sepenuh hati.
Berapa bayak kita yang menghargai persahabatan yang Yesus berikan.


SARANG LABA-LABA
Rom 10:11-17, Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia?

Alkisah, seorang pelukis diberi tugas untuk menggambarkan sebuah gereja yang tidak terawat. Akan tetapi, bukannya melukis puing-puing tua yang hampir roboh, ia justru melukis sebuah bangunan megah yang berdesain modern. Dari jendela-jendelanya dapat terlihat sebuah kotak yang penuh hiasan untuk mengumpulkan persembahan dari para jemaatnya. Di atasnya tergantung sebuah papan bertuliskan “Untuk Misi”. Akan tetapi, yang menyedihkan adalah kotak tersebut diselimuti oleh sarang laba-laba.

Gereja atau pribadi yang hati dan hidupnya tidak terlibat dalam pengabaran Injil sedunia, saat ini sedang berjalan menuju kehancuran. Kita barangkali terlibat di dalam “kegiatan kristiani” yang meluap-luap, namun energi kita akan salah arah apabila program Allah yang utama bagi zaman ini telantar.
Allah telah merancang penginjilan dunia sedemikian rupa sehingga setiap orang percaya terlibat secara aktif. Kita semua perlu meminta “kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu” Mat 9:38.
Sebagian orang juga akan dipanggil secara khusus oleh-Nya untuk menjadi pengabar Injil, sementara itu, orang lain akan menjadi pemberi dan pengutus, karena “bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus?”

JUTAAN ORANG MENUJU KEBINASAAN—TANPA PERNAH MENDENGAR

                      
HIKMAT BERASAL DARI FIRMAN ALLAH
Ams 8:12-21 Di manakah orang yang berhikmat? Di manakah ahli Taurat? … Bukankah Allah telah membuat hikmat dunia ini menjadi kebodohan?

kitab Suci diilhamkan oleh Allah dan mengajarkan kepada kita jalan menuju hidup yang berkelimpahan di dunia ini serta hidup kekal di dunia yang akan datang. Memang benar, Kitab Suci merupakan sumber hikmat yang melebihi hikmat para filsuf yang paling bijaksana sekalipun 1Kor 1:20. Akan tetapi, fakta ini jarang diakui dalam kebudayaan kita.

Maka saya pun gembira pada saat membaca sebuah artikel yang ditulis oleh kolumnis The New York Times, David Brooks, yang memuji hikmat alkitabiah. Ia memuji Martin Luther King Jr. karena wawasan tentang sifat manusia diperolehnya dari Kitab Suci. Ia merasa bahwa King “memiliki pandangan yang lebih akurat tentang realitas politik dibandingkan sekutu-sekutu liberalnya yang lebih sekuler karena ia dapat memanfaatkan hikmat alkitabiah mengenai sifat manusia. Agama tidak hanya membuat para pemimpin yang merumuskan hak asasi manusia lebih kuat—agama membuat mereka lebih pintar”. Dan Brooks berkata lebih lanjut, “Hikmat alkitabiah lebih dalam dan lebih akurat daripada hikmat yang ditawarkan ilmu-ilmu sosial sekuler.”
apakah kita memanfaatkan sumber hikmat itu di dalam kehidupan kita? Kita membutuhkan hikmat Kitab Suci untuk mengatasi masalah-masalah pribadi kita dan persoalan politik. Jika kita mempelajari dan menaati Alkitab, kita akan dapat bersaksi dengan rendah hati bersama sang pemazmur, “Aku lebih berakal budi daripada semua pengajarku, sebab peringatan-peringatan-Mu kurenungkan” Maz 119:99


hikmat berasal dari firman Tuhan
Andalkan Dia
Yer 17:5-10. Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!

Marilah kita bicara dengan jujur. Dapatkah kita selalu memercayai diri sendiri dalam segala hal? Bahkan Rasul Paulus berkata dengan tegas tentang dirinya, “Aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak” 1Kor 9:27. Ia tidak akan memercayai dirinya sendiri untuk melakukan hal yang benar kecuali jika ia menjaga tubuhnya di bawah disiplin yang keras.

Alkitab mengingatkan kita tentang “betapa liciknya hati, lebih licik daripada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya?” . Kita tidak mungkin dapat mengukur tingkat kelicikan hati kita. Maka bagaimanakah kita dapat memercayai diri sendiri atau orang lain sepenuhnya?
Nabi Yeremia memperingatkan raja-raja terakhir Yehuda supaya mereka tidak mengandalkan raja-raja duniawi. Akan tetapi, rupanya mereka terus-menerus mencari pertolongan dari Mesir. Alangkah bodohnya mereka! Mereka seharusnya bertobat dari kefasikan mereka dan berbalik mencari pertolongan Allah yang Mahakuasa.

Siapakah yang dapat kita andalkan untuk menolong kita di saat-saat yang sulit dan tidak pasti? Firman Allah mengatakan bahwa mereka yang mengandalkan Allah adalah seperti pohon yang ditanam di tepi air. Bahkan di musim kering mereka tidak akan berhenti menghasilkan buah,
 
why 22:2 hidup dari kasih karunia Tuhan sehingga ada mujizat dan anugrah





PULANG DAN CERITAKANLAH

Luk 8:26-39, Pulanglah ke rumahmu dan ceritakanlah segala sesuatu yang telah diperbuat Allah atasmu

Dua pria muda telah berteman sejak kecil. Pria yang satu kristiani, yang lainnya bukan. Pria yang kedua sebentar lagi akan berlayar jauh, dan yang kristiani terdorong untuk berbicara kepadanya mengenai Kristus sebelum ia pergi. “Saya akan melakukannya dalam perjalanan ke dermaga,” ia berjanji kepada dirinya sendiri. Namun saat mereka sampai di dermaga, ia masih belum melakukannya.

Ia naik ke atas kapal untuk mengucapkan selamat tinggal, dan berpikir, “Saat kita membawa bagasi ke kamarnya, saya akan berbicara kepadanya.” Namun kuli mengambil semua bagasi dan koper, sehingga mereka tidak mengunjungi kabin. Akhirnya ia berkata kepada dirinya sendiri, “Saya akan bersaksi kepadanya di suatu tempat sepi sebelum kapal berangkat.”Namun, tiba-tiba terdengar pemberitahuan bahwa semua pengunjung harus turun dari kapal. Dua bulan kemudian terdengar kabar bahwa sang pria telah meninggal di luar negeri.
Dalam Injil Lukas, kita membaca tentang seorang pria yang dirasuki banyak setan dan telah disembuhkan secara luar biasa oleh Yesus. Dengan penuh syukur kepada Tuhan ia ingin tinggal bersama-Nya untuk menyembah-Nya. Namun Yesus berkata, “Pulanglah ke rumahmu dan ceritakanlah segala sesuatu yang telah diperbuat Allah atasmu” .
Apakah Anda bersedia menerapkan perkataan Yesus di dalam hidup Anda dan bercerita kepada seseorang tentang anugerah serta keselamatan-Nya? Anda dapat memulai hal itu dari rumah. Janganlah menunda-nunda.
dimana pun anda berada , itulah saat yang tepat untuk menceritakan kasih Yesus kepada orang lain.




APA KAH ANDA DALAM PERGUMULAN YANG BERAT
ibr 12:1-7, Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu ..., supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa

Saat itu saya punya pergumulan yang berat. Dari pagi ke pagi kehidupan doa saya berisi satu keluhan yang sama: “Tuhan, saya tidak seharusnya bergumul seperti ini!” “Mengapa tidak?” suara-Nya yang sayup-sayup bertanya dari dalam diri saya pada suatu pagi.
Lalu datanglah jawabannya—kesombongan terselubung! Entah bagaimana, saya berpikir bahwa seseorang dengan kedewasaan rohani seperti saya tidak seharusnya mengalami pergumulan semacam itu. Itu benar-benar pemikiran yang menggelikan!

Pada saat yang sama, saya diingatkan tentang kisah seorang pria yang membawa pulang sebuah kepompong agar dapat memerhatikan proses lahirnya emperor moth [sejenis ulat sutra]. Saat calon kupu-kupu itu berjuang menembus celah kepompong yang kecil, sang pria memperlebar celah itu dengan ujung guntingnya. Binatang itu memang muncul dengan mudah—namun sayap-sayapnya tidak mengembang. Pergumulan melalui celah yang sempit merupakan cara Allah untuk mendorong cairan dari tubuh ke sayapnya. Pada kenyataannya, bantuan gunting yang “murah hati” itu adalah tindakan yang kejam.
ibr 12 menggambarkan kehidupan kristiani sebagai sebuah perlombaan yang melibatkan ketekunan, disiplin, dan teguran. Kita selalu membutuhkan perjuangan yang kudus untuk melawan diri sendiri dan dosa. Kadang kala pergumulan justru kita perlukan untuk menjadi pribadi yang sesuai dengan maksud Allah 

kekuatan datang dari Allah





MISIONARIS
gal 6:12-18, Aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus

Pada akhir abad ke-19, seorang mantan mahasiswa Universitas Oxford menjadi Kanselir Inggris. Salah seorang teman sekelasnya menjadi Sekretaris Luar Negeri Inggris. Orang ketiga memperoleh reputasi internasional sebagai pengarang. Sedangkan orang keempat, Temple Gairdner, barangkali merupakan siswa yang paling berbakat di antara teman-teman sekelasnya, akan tetapi ia justru tidak menjadi orang yang tenar dan berpengaruh. Mengapa demikian? Karena ia telah menerima Yesus sebagai Juruselamatnya dan hidup sebagai misionaris di daerah yang terpencil dan berbahaya.

Sebenarnya Gairdner bisa saja menjadi orang yang terkenal seperti teman-temannya. Akan tetapi, pada saat memutuskan untuk menjadi seorang misionaris, ia menulis surat kepada saudara perempuannya, “Saya merasakan suatu ambisi yang sangat sulit untuk dipadamkan. Apabila menilik latar belakang keluarga dan pendidikan seseorang yang tinggi, ambisi untuk menjadi terkenal dan ternama memang tampak wajar. Sangat sulit untuk melepaskan diri dari semua itu dan mau meninggal tanpa dikenal.”
Kita mungkin tidak diminta untuk berkorban seperti itu. Namun apakah kita bersedia melayani Sang Juruselamat dengan ketaatan penuh? Untuk melayani Dia dengan setia kita harus mengesampingkan kepentingan kita sendiri, seperti yang dilakukan Paulus.

Kita tidak perlu menjadi terkenal. Namun, kita perlu setia ke mana pun Allah memanggil kita 

kesuksesan dunia berbeda dengan kesuksesan sorgawi


SALIB Dan mahkota
mark 11:1-11 Lihat, rajamu datang kepadamu; ia adil dan jaya. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai , Zak 9:9

Pada hari yang kita sebut sebagai Hari Minggu Palem, Tuhan Yesus memperkenalkan diri-Nya kepada bangsa Israel sebagai Raja ketika Dia memasuki Yerusalem dengan mengendarai seekor keledai. Seandainya saat itu ia mengendarai seekor kuda yang gagah, Dia akan lebih tampak seperti raja. Namun, Zakharia telah bernubuat bahwa Dia akan datang dengan rendah hati. Dan itulah yang dilakukan-Nya.
Raja-raja Timur mengendarai keledai saat membawa misi damai. Sedangkan kuda dipakai sebagai alat perang.
Orang-orang yang berkumpul mengaitkan hal itu dengan kemakmuran duniawi dan kemerdekaan dari Roma. Maka mereka berseru, “Hosana di tempat yang mahatinggi!”.  Namun beberapa hari kemudian, seruan mereka berubah menjadi: “Salibkanlah Dia!” mark15:13.
Sebagian orang yang menyebut diri sebagai pengagum Yesus tidak mengakui Dia sebagai Juruselamat orang-orang berdosa. Namun, kebutuhan kita yang terdalam tak dapat dipenuhi sebelum masalah dosa kita diatasi. Karena itu, Kristus memasuki Yerusalem dengan menunggang seekor keledai dan wajah-Nya tertuju pada salib. Dia sungguh-sungguh menyadari bahwa Dia akan mengalami kematian yang memalukan dan menyakitkan di sana. Kini, setelah membayar harga dosa manusia, Dia sangat ditinggikan di sebelah kanan Allah dan akan datang kembali sebagai Raja segala raja dan Tuhan segala tuhan. Salib-Nya harus mendahului mahkota-Nya.
Jika kita ingin menjadi bagian dari kerajaan surgawi-Nya, kita harus menerima Dia sebagai Juruselamat kita sekarang

TIDAK AKAN ADA YANG MEMAKAI MAHKOTA DI SURGA
JIKA KRISTUS TIDAK MEMIKUL SALIB DI BUMI

LEPASKAN suka cita mu  
2 sam 22:50 Aku mau menyanyikan syukur bagi-Mu, ya TUHAN, ... dan aku mau menyanyikan mazmur bagi nama-Mu

Para peserta konferensi pada sebuah gereja di Nebraska diberi balon-balon yang berisi gas helium. Kemudian mereka diminta untuk melepaskan balon-balon tersebut di tengah-tengah kebaktian, yaitu pada saat mereka merasa ingin mengungkapkan sukacita. Sepanjang kebaktian, balon-balon tersebut membumbung naik satu per satu.

Akan tetapi, di akhir kebaktian, sepertiga peserta belum melepaskan balon mereka,  apakah mereka tidak dapat memikirkan satu alasan pun untuk memuji Allah.
Raja Daud pasti telah melepaskan balonnya pada saat menyanyikan lagu pujian yang tercatat di dalam kitab . Ia bersukacita karena Allah telah melepaskan ia dari semua musuhnya.  Sebelumnya, pada saat bersembunyi dari Raja Saul di padang gurun yang berbatu, ia telah belajar bahwa rasa aman yang sejati hanya dapat ditemukan di dalam Allah.  Hati Daud merasa harus “menyanyikan syukur” dan “menyanyikan mazmur”, karena Tuhan telah menjadi bukit batu, kubu pertahanan, penyelamat, kota benteng, perlindungan, dan Juruselamat baginya.
Tuhan Pemberi kedamaian di waktu kacau, Penghibur di tengah kehilangan,  Pengampun dosa,  Kekuatan di dalam tugas yang sulit.
Ambillah selembar kertas dan tuliskanlah daftar ucapan syukur Anda. Lalu luangkan waktu untuk memuji Allah atas segala keberadaan-Nya dan segala yang telah dilakukan-Nya.


PUJIAN ADALAH LUAPAN HATI YANG BERSUKACITA




MENYINGKIRKAN penyebab dosa

ams 3:21,23 Pertimbangan dan kebijaksanaan ..., peliharalah itu .... Maka engkau akan berjalan di jalanmu dengan aman

Seorang pemilik rumah merasa putus asa karena pekarangan rumahnya dipenuhi oleh tikus tanah. Ia telah mencoba segala cara untuk mengalahkan musuh bawah tanahnya itu, namun gagal. Akhirnya seorang teman memberitahukan bahwa cara yang ia lakukan itu salah. Masalah yang sesungguhnya bukanlah tikus-tikus tanah tersebut, melainkan larva serangga yang menjadi makanan mereka. Singkirkanlah larva-larva itu, maka tikus tanah tidak lagi memiliki alasan untuk tinggal di sana.
Amsal pasal ketiga menggambarkan situasi serupa. Namun hal itu tidak menyangkut tikus tanah, tetapi ketakutan. Ketakutan itu merampas kekuatan kita di siang hari dan tidur kita di malam hari .
Hal yang juga nyata di dalam pasal ini adalah bahwa kita hanya dapat menghilangkan ketakutan apabila kita menyerang “larva-larva serangga” yang menarik perhatian ketakutan itu sendiri. Kita harus dapat mengatasi rasa puas diri dan ketidaksopanan.  Kita harus menerapkan hikmat ilahi serta pengertian untuk mengubah jalan-jalan kita yang jahat dan bodoh. Hanya dengan cara seperti itulah, maka ketakutan akan kehilangan cengkeramannya.
Yang penting adalah mengetahui masalah sesungguhnya, sehingga kita dapat mengatasinya. Saat menghadapi ketakutan, kita harus mengambil keputusan yang bijaksana berdasarkan firman Allah dan membangun hubungan kepercayaan yang penuh kasih dengan Kristus.

TETAPLAH MEMANDANG ALLAH
MAKA KETAKUTAN TIDAK AKAN TERLIHAT LAGI


Pembangunan bait Allah –pribadi  

hag 1:4 Apakah sudah tiba waktunya bagi kamu untuk mendiami rumah-rumahmu yang dipapani dengan baik, sedang Rumah ini tetap menjadi reruntuhan?

Nubuat Hagai di dalam Kitab Suci acap kali dilewatkan. Padahal di dalamnya terkandung banyak hal penting bagi kita. Kitab yang singkat ini berisi empat pesan Allah kepada orang-orang buangan Yahudi yang telah kembali dari Babel. Misi mereka adalah membangun kembali Bait Allah di Yerusalem.
Mereka mengawalinya dengan baik. Namun kemudian semangat mereka menyusut dan justru membangun rumah bagi mereka sendiri. Dalam pesan pertamanya, Hagai bertanya, “Apakah sudah tiba waktunya bagi kamu untuk mendiami rumah-rumahmu yang dipapani dengan baik, sedang Rumah ini tetap menjadi reruntuhan?”

Di dalam pesan keduanya, Hagai bertanya apakah ada orang yang mengingat bait Allah yang dibangun oleh Salomo dan dihancurkan oleh Raja Nebukadnezar. Ternyata tidak banyak orang tua yang pernah mengalami pembuangan itu, yang dapat mengingat kejayaan masa silam. Jika dibandingkan, proyek pembangunan yang diabaikan tersebut tampak menyedihkan.
Marilah kita renungkan selama beberapa saat tentang pekerjaan membangun gereja. Bagi kita, gereja merupakan tubuh Kristus, yaitu orang-orang percaya itu sendir-bait Allah 1Kor 12:27. Misi kita sebagai pengikut Yesus adalah menjadi kuat, mengabdi, bertumbuh, serta bersaksi.
Bagaimanakah keadaan jemaat yang Anda,  Apakah jemaat itu sibuk mengerjakan pekerjaan Allah,  Apakah Anda terlibat,  Ataukah pikiran Anda telah terganggu dengan pekerjaan membangun “rumah-rumah papan” Anda sendiri?  

KOMITMEN KEPADA KRISTUS
BERJALAN SEIRING DENGAN KOMITMEN KEPADA GEREJA-NYA




pujian syukur

maz 118:22 Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru

Untuk merayakan hari raya Paskah, para penyembah Yahudi menyanyikan Maz 113-118, yaitu bagian yang disebut “Halel Mesir”. Upacara tersebut berkembang menjadi penghargaan terhadap kebebasan dan keindahan hidup yang telah diberikan Allah. Pada akhir upacara itu, para peserta bernyanyi dan memuji Allah untuk menyenangkan Dia dan juga untuk mengekspresikan kegembiraan mereka. Seorang rabi menjelaskan hal tersebut sebagai “sukacita atas kebebasan yang mendalam”.

Menurut Injil Matius, Yesus dan murid-murid-Nya menyanyikan sebuah kidung pujian dan “pergi ke Bukit Zaitun” setelah mereka merayakan Paskah terakhir mereka bersama-sama mat26:30.
Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan
Telah menjadi batu penjuru.
Hal itu terjadi dari pihak TUHAN,
Suatu perbuatan ajaib di mata kita.
Inilah hari yang dijadikan TUHAN,
Marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya!

Apa pun kidung yang mereka nyanyikan, keyakinan Yesus akan kebaikan Bapa surgawi sungguh mengejutkan. Dia sanggup memuji Bapa-Nya, sekalipun Dia mengetahui bahwa sebentar lagi Dia akan mengalami hari yang paling gelap sepanjang perjalanan hidup-Nya

PUJIAN MEMILIKI KUASA
UNTUK MERINGANKAN BEBAN KITA YANG PALING BERAT





dosa merugikan diri sendiri-banyak orang
yes 53:5 Dia tertikam oleh karena pemberontakan kita

Derita yang keji, mengerikan, dan menyiksa. Derita yang tak kenal henti, tak tertahankan, dan tak terkatakan. Dengan setiap cambukan di punggung Yesus dan setiap langkah yang berat mendaki Bukit Golgota, Sang Juruselamat menerima hukuman atas dosa yang kita perbuat.

Dosa itu buruk karena dosa membuat Yesus harus menderita. Ya, dosa kita adalah alasan Yesus menderita siksaan saat Dia berjalan menuju penyaliban—dan saat Dia tergantung di atas salib itu hingga akhirnya mati secara mengerikan.
Tentu saja kita tidak pernah dapat mengubah apa yang telah terjadi; derita itu tidak pernah dapat dibatalkan. Namun kita perlu mengerti bahwa jika kita terus berbuat dosa secara sadar, seakan-akan kita berkata bahwa kita tak peduli terhadap apa yang dialami Yesus karena kita. Kita tetap akan melakukan apa yang kita inginkan. Berdosa di bawah terang salib berarti mengatakan kepada Yesus bahwa bahkan penderitaan-Nya yang hebat pun belum membuat kita mengerti tentang kekejaman dosa.


YESUS MENANGGUNG DOSA KITA
SUPAYA KITA MEMILIKI KESELAMATAN-NYA