Jumat, 19 Agustus 2011

ANDA HARUS PAHAM FIRMAN TUHAN

MENJAWAB SAKSI YEHOVA

Kebebasan beragama adalah hal yang baik. Sebelum masa reformasi, Indonesia tidak memiliki kebebasan beragama yang sebebas-bebasnya. Hal itu karena hanya ada lima agama yang diakui oleh negara, padahal di dunia ini ada banyak sekali agama. Agama-agama yang tidak ternaungi oleh Depag, akhirnya nebeng di bawah nama agama lain, atau sama sekali tidak mendaftarkan diri dan “beroperasi” secara diam-diam.
Bertambahnya kebebasan beragama di Indonesia, bukan hanya dipakai oleh orang-orang percaya demi pekabaran Injil, tetapi juga dipakai oleh Iblis untuk memajukan penyesatan. Salah satu aspek yang paling kentara adalah bangkitnya sekte Saksi Yehova (SY). Golongan yang tidak diakui selama Orde Baru ini, kini sudah resmi terdaftar di Departemen Agama dan sedang meningkatkan aktivitas mereka. Banyak orang Kristen yang salah pengertian, lalu mengecam kebebasan beragama sebagai sesuatu yang kurang baik karena memberi kesempatan bagi SY untuk berkembang. Sebenarnya tidak boleh bersikap demikian. Yang salah bukanlah kebebasan beragama, karena kebebasan itu baik. Jika tidak ada kebebasan, maka Iblis juga akan campur tangan, sehingga golongan yang benar pun tidak boleh beroperasi (misal di Arab Saudi tidak boleh ada gereja). Kebebasan itu sesuai dengan keinginan Allah, tetapi yang salah adalah kurangnya pengetahuan “orang-orang Kristen” sehingga mudah untuk disesatkan oleh berbagai bidat seperti Saksi Yehova (SY).

I. Lukas 18:19 “Jawab Yesus: "Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorangpun yang baik selain dari pada Allah saja.” 
Tetapi, benarkah bahwa dalam Lukas 18:19 Yesus mengaku bukan Allah? Sebenarnya tidak demikian. Para Saksi Yehova sengaja tidak menjelaskan maksud dari perkataan Yesus yang sesungguhnya sesuai dengan konteks. Pada waktu itu Yesus didatangi oleh seorang muda yang kaya raya. Orang kaya ini ingin mencari pembenaran dari Yesus, dan bertanya tentang jalan ke surga pada Yesus. Jelas orang kaya ini adalah seorang yang tidak percaya, karena Yesus menyayangkan pada akhir percakapan bahwa uang yang banyak yang dimiliki oleh anak muda itu telah menghalangi dia masuk kerajaan surga. Nah, jadi ada seorang yang belum percaya mendatangi Yesus, dan menyapaNya, “Guru yang baik.” Yesus, alih-alih menyatakan diri bukan Allah, justru pada kesempatan itu ingin mengetes anak muda tersebut. "Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorangpun yang baik selain dari pada Allah saja.” Maksud Yesus, jika engkau tidak percaya Aku Allah, mengapa menyebut Aku baik? Di sini, justru Yesus mengharapkan orang muda tersebut tersentak dan mengakui bahwa Yesus memang pantas disebut baik, karena Ia adalah Allah. Jadi, kita lihat, perikop ini justru mendukung keilahian Yesus. Yesus selalu sadar bahwa Ia memang Allah. Berulang kali Ia menunjukkannya, seperti pada saat ia mengatakan bahwa “Aku dan Bapa adalah satu,” saat Ia memberi pengampunan dosa, dll. Kaum SY juga suatu hari akan mengaku bahwa Yesus adalah Allah, karena suatu hari semua lidah akan mengaku dan semua lutut akan bertelut.
II. Yohanes 14:28 “sebab Bapa lebih besar dari pada Aku.”
Ayat ini berpotensi menimbulkan kekacauan jika tidak disertai dengan pengertian akan Allah Tritunggal. Ingat, bukan manusia yang menentukan bagaimana Allah itu seharusnya, melainkan Allah-lah yang telah menciptakan manusia sesuai keinginanNya, lalu berkomunikasi dengan manusia agar manusia mengerti tentang Allah. Sehingga, tugas manusia bukanlah untuk menciptakan Allah sesuai dengan bayangan kita masing-masing, tetapi menerima dengan segenap hati penyataan Allah akan diriNya sendiri sebagaimana dituliskan dalam Alkitab.
Allah dalam Alkitab adalah Allah yang satu sekaligus tiga. Allah yang terdiri dari tiga pribadi, Bapa, Putra dan Roh Kudus, yang adalah pribadi yang berbeda, tetapi satu adanya. Apakah ini sulit untuk dimengerti? Mungkin. Tetapi, Allah tidak perlu memenuhi tuntutan intelektual manusia, dan justru Allah tidak mungkin dimengerti sepenuhnya oleh manusia. Sama seperti manusia tidak dapat menjelaskan kelahiran perawan, kebangkitan dari dunia orang mati, lima roti memberi makan lima ribu orang, dsb, maka manusia tidak perlu menuntut bahwa pribadi Allah dapat ia mengerti seratus persen. Toh banyak hal dalam alam yang tidak dimengerti, tetapi diterima sebagai kebenaran. Contoh yang sangat mirip adalah cahaya. Belakangan, para ilmuwan menemukan bahwa cahaya memiliki tiga sifat, yaitu sifat partikel, sifat gelombang dan sifat quantum. Sebenarnya, ketiga sifat ini eksklusif satu dengan yang lainnya, tetapi herannya ketiganya satu di dalam cahaya. Tentu ini bukanlah analogi yang sempurna untuk Allah, tetapi dapat menunjukkan bahwa manusia memang tidak mengerti segala sesuatu, dan tidak perlu meragukan apa yang sudah jelas di dalam Alkitab.
Berkaitan dengan Allah Tritunggal, mereka adalah pribadi yang berbeda tetapi satu. Dalam rencana penyelamatan, telah ditentukan bahwa Allah Anak akan merendahkan diriNya (Fil. 2:6-7 kenosis dalam bahasa Yunani; Ibrani 2:68) dan mengambil rupa manusia. Pada saat Allah Putra berada dalam rupa manusia, Ia berada dalam posisi yang lebih rendah daripada Allah Bapa. Hal ini bukan karena Ia memang lebih rendah (Fil. 2:6-7 menjelaskan bahwa Ia pada awalnya setara dengan Bapa), tetapi karena Ia sengaja merendahkan diri. Tetapi, pada hakekatnya Ia tetaplah satu esensi dengan Bapa, oleh sebab itu Ia mengatakan di tempat lain bahwa Ia dan Bapa adalah satu (Yoh. 10:30).
Dengan menggabung-gabungkan beberapa ayat Alkitab, kita telah mendapatkan penjelasan yang sangat logis, alkitabiah, dan cocok untuk permasalahan yang ditimbulkan oleh kaum SY atas Yohanes 14:28. Yesus sedang berbicara dalam kemanusiaanNya. KemanusiaanNya penting untuk menyelamatkan manusia, tetapi keilahianNya tidak kalah penting. Dan barang siapa hendak beroleh selamat, harus percaya pada Yesus yang adalah Allah menjelma menjadi manusia, termasuk kaum SY.



III. Wahyu 3:14 “Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Laodikia: Inilah firman dari Amin, Saksi yang setia dan benar, permulaan dari ciptaan Allah”
Dengan mengesampingkan berbagai ayat yang mendukung keilahian Yesus, SY justru sangat ahli dalam mencari dan memakai ayat-ayat yang “seolah-olah” menyatakan bahwa Yesus bukan Allah. Salah satu yang suka mereka pakai adalah ayat ini, yang mereka klaim membuktikan bahwa Yesus adalah salah satu ciptaan Allah, dan bukan Allah itu sendiri. Benarkah demikian?
Jika kita sekilas saja membaca kitab Wahyu, maka kita akan mendapatkan gambaran tentang Yesus yang jauh berbeda dari apa yang para SY ingin kita percayai. Bahkan dalam pasal 1 ayat 8, Yesus berkata bahwa Ia adalah “Alfa dan Omega ...yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, yang Mahakuasa.” Kalimat ini adalah klaim akan pre-eksistensi, bahwa Yesus tidak pernah diciptakan dan telah eksis sejak kekekalan lampau bersama Allah Bapa. Doktrin serupa kita temui di berbagai bagian lain Alkitab (misal Yoh. 1:1). Dalam Wahyu 2:8, hal yang sama kembali diserukan. Rasul Yohanes tentu tidak akan mengatakan bahwa Yesus diciptakan dalam 3:14, ketika diseluruh kitab Wahyu lainnya Yesus digambarkan sebagai ilahi.


IV. Amsal 8:22 “TUHAN telah menciptakan aku sebagai permulaan pekerjaan-Nya, sebagai perbuatan-Nya yang pertama-tama dahulu kala.”
Masih dalam topik cipta mencipta, orang-orang yang tidak mengakui keilahian Yesus, mulai dari Arian pada abad-abad awal, hingga SY pada hari ini, sering memakai Amsal pasal 8 untuk “membuktikan” bahwa Yesus diciptakan. Sebenarnya Amsal pasal 8 sama sekali tidak menyinggung nama Yesus, tetapi berbicara mengenai hikmat. Kaum SY mengklaim bahwa Hikmat di sini adalah Yesus. Dengan cara demikian, mereka mengatakan bahwa Yesus diciptakan.

KOMENRTAR :
Wah, susah juga yah. Mereka itu sudah memperdalami alkitab mereka dengan sangat dalam lho. Jadi intinya kalo kita mau mengajari mereka tentang kebenaran Kristus yah kita harus juga dah belajar banyak tentang alkitab.

Kalo kita bilang bahwa Allah itu Tritunggal, dia pasti nanya ayatnya dimana. Nanti kalo kita gak bisa jawab, malah dia yang kotbahin kita. Itu susah sekali lho. Kalo juga kamu bisa jawab, dia pasti kasih ayat dari dia yang nyatain bahwa Yesus bukan Tuhan. Dan setelah itu mereka juga bakal ngasih pertanyaan yang serupa.

Saran saya kalo anda didatangi mereka, lebih baik anda menyuruh mereka pergi. Mungkin bisa dengan bilang seperti ini,"maaf, saya sudah mengenal Tuhan, lebih baik anda mengajari orang yang belum mengenal Tuhan Yesus."
Tapi kalo kamu dah merasa kalo pendalaman alkitab kamu dah luar biasa, kamu bisa aja coba mengajari mereka. tapi konsekuensinya kalo kamu gak bisa membalas pertanyaan mereka, justru kamulah yang kena dikotbahin.